kamu, yang membuat pagi berseri, bukan untukku
kamu, yang terang benderang di antara bintang, bukan untukku
kamu, yang lebih wangi dari kasturi, bukan untukku
tapi kamu… ya kamu! kamu memang untukku!
ketika kamu bilang “iya aku untukmu”
lengkaplah sudah tulang rusukku
dengan senyuman pengguncang kalbu
tatapan pembangkit rindu
dan bisikan pelebur sendu
aku tak pernah takut dengan kesendirian
sampai aku bertemu kamu
sepi semarak sekali
jangkrik tak bernyanyi
angin malas menari
bulan enggan berseri
kamu, masih saja tak di sini
aku embun di atas melati
hangatmu membawaku pergi
jauh tinggi menembus pelangi
kali ini benar-benar kamu yang gemerlap
menerangiku saat gelap
menghangatkanku ketika senyap